Tidak perlu jauh-jauh belajar strategi perang pada Sun
Tzu, ahli strategi perang kuno Tiongkok itu. Bung Karno, bapak pendiri
bangsa kita, juga punya keahlian dalam merumuskan strategi memenangkan
peperangan.
Namun, ini tidak berarti Bung Karno doyan peperangan.
Strategi peperangan ala Bung Karno ini tak lebih sebagai alat
mempertahankan diri. Maklum, Indonesia adalah “permata Asia”. Ia selalu
menjadi incaran negeri-negeri imperialis.
Nah, sehubungan dengan teknik peperangan, Bung Karno punya strategi
tersendiri. Dikatakan sendiri oleh Bung Karno, strateginya ini merupakan
hasil studinya sendiri. Dan, itu sudah berulangkali diajarkan pada
angkatan perang di jaman itu (1950an-
1960an).
Ada tiga strategi memenangkan peperangan ala Bung Karno. Pertama,
kalahkan jiwa rakyat daripada musuhmu. Kedua, rebut sumber-sumber supply
musuhmu (conquer the source of supply). Ketiga, rebutlah benteng-benteng musuhmu (conquer the fortresses of the enemies).
Tiga strategi itu diarahkan pada musuh saat peperangan. Rebut atau
taklukkan jiwa rakyat musuhmu. Artinya, dalam sebuah peperangan, mutlak
adanya sebuah propaganda sistematis untuk meraih simpati rakyat musuh.
Lihatlah perang Vietnam, misalnya. Keberhasilan membangkitkan gerakan
anti-perang di AS turut mendemoralisasi banyak tentara AS itu sendiri.
Bayangkan, rakyat di negeri musuh itu sendiri melarang tentaranya
dipergunakan untuk menggempur kita.
Kemudian, merebut sumber-sumber supply musuh. Di sini, seperti yang
dijalankan oleh strategi gerilya semasa revolusi, perlu untuk
menghancurkan sumber-sumber supply militer musuh: gudang senjata, bahan
bakar, sarana telekomunikasi, dan lain-lain. Aksi-aksi sabotase juga
penting untuk dilakukan.
Selanjutnya, soal merebut benteng-benteng musuh. Di sini Soekarno
menekankan, benteng merupakan simbol pertahanan. Artinya, dengan merebut
benteng-benteng musuh, pertahanan musuh pun akan melemah. Mereka juga
secara psikologis merasa terjebol.
Nah, tiga strategi di atas dapat dipergunakan saat peperangan. Namun,
seperti dikatakan Bung Karno, tiga strategi di atas dapat pula
dipergunakan untuk posisi bertahan atau dalam situasi damai. Katanya,
tiga strategi itu dapat pula dipakai untuk memperkuat angkatan perang
kita sendiri.
Pertama, tentara harus bersarang di hati Rakyat. Kata Bung Karno,
angkatan perang Indonesia harus bersarang di hati seluruh rakyat
Indonesia. Tidak bisa hanya di sebagian atau kelompok kecil kalangan di
rakyat itu.
Dahulu, di era orde baru, ada istilah “ABRI manunggal dengan rakyat”.
Pada kenyataannya, itu dimaknai artifisial: ABRI masuk desa atau kerja
bakti. Bagi Bung Karno, angkatan perang bersarang di hati rakyat berarti
dicintai atau dimiliki oleh rakyat itu sendiri. Mungkin mirip dengan
doktrin Mao: bagaikan ikan di dalam air. Artinya, tentara itu seperti ikan dan rakyat itu ibarat air di sungai. Begitulah mestinya hubungan tentara dengan rakyat.
Supaya tentara bisa menyatu dengan rakyat, Mao Tse Tung mengajukan
disiplin atau aturan ketat bagi tentara merah. Ada yang disebut tiga disiplin besar:
Tunduk kepada komando dalam setiap tindakan;Tidak mengambil sebatang
jarum atau seutas benangpun dari massa-rakyat; Serahkan setiap rampasan
perang kepada atasan. Ada juga yang disebut delapan pasal perhatian:
Ramah tamah dalam berbicara; Adil dalam membeli dan menjual; Kembalikan
setiap barang pinjaman; Ganti kerugian untuk barang yang kau rusakkan;
Jangan memukul atau memaki orang; Jangan merusak tanam-tanaman; Jangan
berlaku tidak senonoh terhadap wanita; Jangan menganiaya tawanan perang.
Kedua, mempertahankan sources of supply supaya tidak
kocar-kacir. Di sini Bung Karno mencontohkan, supaya bangsa tetap kuat,
maka ekonomi juga harus perkuat. Ini untuk memperkuat moral rakyat dan
angkatan perang. Ini juga sebagai supply bagi kekuatan perang.
Sourcers of supply lainnya, misalnya, adalah energi. Kita
harus mempertahankan energi kita. Selain untuk menggerakan ekonomi
rakyat dan negara, energi ini juga merupakan sumber daya perang. Jangan
sampai jatuh ke tangan musuh!
Juga, tak kalah pentingnya, adalah mempertahankan aset-aset strategis
dan sumber daya alam kita dari pencaplokan kekuatan imperialis.
Aset-aset strategi dan sumber daya alam itu harus terpastikan untuk
kepentingan nasional.
Ketiga, kita harus memperkuat benteng kita. Di sini, kata Bung Karno,
benteng tidak dimaknai sekedar bangunan yang terbuat dari besi dan baja
saja. Namun, yang terpenting, memperkuat organisasi kita: negara.
Ini juga menyangkut mempertahankan setiap jengkal tanah Republik.
Juga termasuk melindungi dan menjaga keselamatan rakyat Indonesia. Dan
juga mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam
kerangka cita-cita nasionalnya: masyarakat adil dan makmur.
Namun, bagi Soekarno, satu hal penting dalam peperangan adalah moral.
Ini sesui dengan yang dikatakan Mao Zedong, “moral yang memutuskan
hasil pertempuran”. Moral tentara haruslah anti-kolonialisme,
anti-imperialisme, dan anti terhadap segala bentuk penghisapan manusia
atas manusia (exploitation de I’homme par I’homme).
Timur Subangun, anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD)






0 komentar:
Posting Komentar