BTemplates.com

Minggu, 20 November 2016

PENGALAMAN TENTARA

Tentara Britania awalnya merupakan relawan, namun pada akhirnya menjadi wajib militerImperial War Museum di Britania telah mengoleksi lebih dari 2.500 tekaman kesaksian pribadi tentara, dan sejumlah transkrip pilihan yang disunting oleh penulis militer Max Arthur telah diterbitkan. Museum ini percaya bahwa sejarawan belum memanfaatkan penuh material-material ini, dan museum ini berhasil memiliki arsip lengkap rekaman untuk para penulis dan peneliti.[170] Veteran yang selamat dan pulang cenderung hanya bisa mendiskusikan pengalaman mereka dengan sesama rekannya. Mereka berkumpul dan membentuk "asosiasi veteran" atau "Legiun".

Tawanan perang[sunting | sunting sumber]

Tawanan Jerman di kamp penjara Perancis
Sekitar 8 juta tentara menyerah dan ditahan di kamp tawanan perang selama Perang Dunia I. Semua negara berjanji mengikuti Konvensi Den Haag mengenai perlakuan baik tawanan perang. Tingkat keselamatan tawanan perang umumnya lebih tinggi daripada rekan mereka di garis depan.[171] Penyerahan diri individu cenderung tidak biasa; pasukan dalam jumlah besar yang biasanya menyerah secara massal. Pada Pertempuran Tannenberg 92.000 tentara Rusia menyerah. Saat garnisun Kaunas yang dikepung menyerah tahun 1915, sekitar 20.000 tentara Rusia menyerah. Lebih dari setengah kerugian Rusia (sebagai perbandingan terhadap mereka yang ditangkap, terluka, atau gugur) memiliki status tawanan; untuk Austria-Hongaria 32%, Italia 26%, Perancis 12%, Jerman 9%; Britania 7%. Tawanan dari pasukan Sekutu berjumlah 1,4 juta orang (tidak termasuk Rusia, yang 2,5-3,5 juta tentaranya ditawan). Dari Blok Sentral, sekitar 3,3 juta tentara menjadi tawanan perang.[172]
Jerman menahan 2,5 juta tentara; Rusia menahan 2,9 juta tentara; sementara Britania dan Perancis sekitar 720.000 tentara. Kebanyakan di antara mereka ditangkap tepat sebelum gencatan senjata. A.S. menahan 48.000 tentara. Saat-saat paling berbahaya adalah tindakan penyerahan diri, ketika tentara yang pasrah kadang ditembaki begitu saja.[173][174] Setelah tawanan tiba di kamp, kondisi pada umumnya memuaskan (dan lebih baik daripada Perang Dunia II), berkat upaya Palang Merah Internasional dan inspeksi oleh negara-negara netral. Akan tetapi, di Rusia lebih buruk lagi: kelaparan biasa terjadi di kalangan tawanan dan warga sipil; sekitar 15–20% dari seluruh tawanan di Rusia meninggal. Di Jerman, makanan langka, tetapi hanya 5% yang meninggal.[175][176][177]
Foto ini memperlihatkan tentara Angkatan Darat India kurus yang selamat dari Pengepungan Kut.
Kesultanan Utsmaniyah sering memperlakukan tahanan perang dengan buruk.[178] Sekitar 11.800 tentara Imperium Britania, kebanyakan India, ditawan setelah Pengepungan Kut di Mesopotamia pada bulan April 1916; 4.250 orang meninggal dalam penjara.[179] Meski banyak yang sedang dalam kondisi buruk saat ditangkap, para perwira Utsmaniyah memaksa mereka berjalan sejauh 1,100 kilometer (684 mi) ke Anatolia. Seorang korban selamat mengatakan, "Kami digiring seperti hewan liar; keluar dari sana artinya mati."[180] Para korban selamat kemudian dipaksa membangun rel kereta api melintasi Pegunungan Taurus.
Di Rusia, saat para tawanan dari Legiun Ceko Angkatan Darat Austria-Hongaria dibebaskan tahun 1917, mereka mempersenjatai diri kembali dan sempat menjadi kekuatan militer dan diplomatik pada Perang Saudara Rusia.
Meski tawanan Sekutu di Blok Sentral langsung dikirim pulang setelah akhir perang, perlakuan yang sama tidak diberikan kepada tawanan Blok Sentral di negara Sekutu dan Rusia. Kebanyakan dari tawanan Blok Sentral tersebut dijadikan pekerja paksa, misalnya di Perancis sampai tahun 1920. Mereka baru dibebaskan setelah Palang Merah mendekati Dewan Agung Sekutu berkali-kali.[181]Tawanan Jerman masih ditahan di Rusia sampai tahun 1924.[182]

Atase militer dan koresponden perang[sunting | sunting sumber]

Pemantai militer dan sipil dari setiap kekuatan besar mengikuti dengan saksama jalannya perang. Banyak yang mampu melaporkan suatu peristiwa dari sudut pandang yang mirip dengan posisi "tempelan" di dalam daratan dan pasukan laut musuh. Para atase militer dan pemantau lain ini mempersiapkan kesaksian langsung mengenai perang disertai tulisan analitis.
Misalnya, mantan Kapten Angkatan Darat A.S. Granville Fortescue mengikuti perkembangan Kampanye Gallipoli dari sudut pandang tempelan di dalam wilayah pertahanan Turki; dan laporannya diteruskan melalui sensor Tukri sebelum dicetak di London dan New York.[183] Akan tetapi, peran pemantau ini diabaikan ketika A.S. memasuki kancah perang, sementara Fortescue langsung mendaftar ulang masuk militer dan terluka di Hutan Argonne pada Ofensif Meuse-Argonne, September 1918.[184]
Narasi perang oleh pemantau secara mendalam dan artikel jurnal profesional yang lebih sempit segera ditulis setelah perang; dan laporan pascaperang ini umumnya mengilustrasikan kehancuran medan tempur dalam konflik ini. Ini bukan pertama kalinya taktik posisi parit untuk infanteri yang dipersenjatai senjata mesin dan artileri menjadi sangat penting. Perang Rusia-Jepang juga dipantau secara saksama oleh atase militer, koresponden perang, dan pemantau lain; tetapi, dari sudut pandang abad ke-21, tampak jelas bahwa serangkaian pelajaran taktik diabaikan atau tidak dipakai dalam persiapan perang di Eropa dan seluruh Perang Besar.[185]
sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_I#Pengalaman_tentara

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.