Serangan pembuka[sunting | sunting sumber]
Kebingungan Blok Sentral[sunting | sunting sumber]
Strategi Blok Sentral mengalami miskomunikasi. Jerman telah berjanji mendukung invasi Austria-Hongaria ke Serbia, namun penafsiran maksudnya berbeda. Rencana penempatan pasukan yang sebelumnya diuji telah diganti pada awal 1914, namun penggantian tersebut tidak pernah diuji dalam latihan. Para pemimpin Austria-Hongaria yakin Jerman akan melindungi perbatasan utaranya dari serbuan Rusia.[30] Meski begitu, Jerman mengharapkan Austria-Hongaria mengarahkan sebagian besar tentaranya ke Rusia, sementara Jerman menangani Perancis. Kebingungan ini mendorong Angkatan Darat Austria-Hongaria membagi pasukannya antara front Rusia dan Serbia.
Pada tanggal 9 September 1914, Septemberprogramm, sebuah rencana memungkinkan yang menyebutkan tujuan perang tertentu Jerman dan persyaratan yang dipaksakan Jerman terhadap Blok Sekutu, dibuat oleh Kanselir Jerman Theobald von Bethmann-Hollweg. Rencana ini tidak pernah dilaksanakan secara resmi.
Kampanye Afrika[sunting | sunting sumber]
Sejumlah pertempuran pertama dalam perang melibatkan kekuatan kolonial Britania, Perancis, dan Jerman di Afrika. Tanggal 7 Agustus, tentara Perancis dan Britania menyerbu protektorat Togoland Jerman. Tanggal 10 Agustus, pasukan Jerman di Afrika Barat Daya menyerang Afrika Selatan; pertempuran sporadis dan sengit berlanjut sampai akhir perang. Pasukan kolonial Jerman di Afrika Timur Jerman, dipimpin Kolonel Paul Emil von Lettow-Vorbeck, melakukan kampanye peperangan gerilya selama Perang Dunia I dan baru menyerah dua minggu setelah gencatan senjata diberlakukan di Eropa.[31]
Kampanye Serbia[sunting | sunting sumber]
Austria menyerbu dan memerangi pasukan Serbia pada Pertempuran Cer dan Pertempuran Kolubara yang dimulai tanggal 12 Agustus. Sampai dua minggu berikutnya, serangan Austria dipatahkan dengan kerugian besar, yang menandakan kemenangan besar pertama Sekutu dalam perang ini dan memupuskan harapan Austria-Hongaria akan kemenangan mulus. Akibatnya, Austria harus menempatkan pasukan yang memadai di front Serbia, sehingga melemahkan upayanya membuka perang dengan Rusia.[32] Kekalahan Serbia dalam invasi Austria-Hongaria tahun 1914 tergolong sebagai kemenangan terbalik besar dalam abad terakhir.[33]
Pasukan Jerman di Belgia dan Perancis[sunting | sunting sumber]
Pada awal pecahnya Perang Dunia Pertama, angkatan darat Jerman (di sebelah barat terdiri dari tujuh pasukan lapangan) melaksanakan versi modifikasi Rencana Schlieffen, yang dirancang untuk menyerang Perancis secara cepat melalui Belgia yang netral sebelum berbelok ke selatan untuk mengepung pasukan Perancis di perbatasan Jerman.[10]. Karena Perancis telah menyatakan bahwa mereka akan "bertindak sebebasnya andai terjadi perang antara Jerman dan Rusia", Jerman memperkirakan kemungkinan serangan di dua front. Jika terjadi hal seperti itu, Rencana Schlieffen menyatakan bahwa Jerman harus mencoba mengalahkan Perancis secara cepat (seperti yang terjadi pada Perang Perancis-Prusia 1870-71). Rencana ini menyarankan bahwa untuk mengulangi kemenangan cepat di barat, Jerman tidak usah menyerang melalui Alsace-Lorraine (yang memiliki perbatasan langsung di sebelah barat sungai Rhine), tetapi mencoba memutuskan Paris secara cepat dari Selat Inggris (terputus dengan Britania Raya). Kemudian pasukan Jerman dipindahkan ke timur untuk menyerbu Rusia. Rusia diyakini membutuhkan persiapan lama sebelum bisa menjadi ancaman besar bagi Blok Sentral.
Jerman ingin bergerak bebas melintasi Belgia (dan Belanda juga, meski ditolak Kaiser Wilhelm II) untuk bertemu Perancis di perbatasannya. Jawaban dari Belgia netral tentu saja "tidak". Jerman kemudian merasa perlu menyerbu Belgia, karena inilah rencana satu-satunya yang ada andai terjadi perang dua front di Jerman. Perancis juga ingin menggerakkan tentara mereka melintasi Belgia, tetapi Belgia menolak untuk menghindari pecahnya perang apapun di tanah Belgia. Pada akhirnya, setelah serbuan Jerman, Belgia mencoba menggabungkan pasukan mereka dengan Perancis (namun sebagian besar pasukan Belgia mundur ke Antwerpen tempat mereka dipaksa menyerah ketika semua harapan bantuan pupus).
Rencana ini meminta agar sisi kanan Jerman bergerak ke Paris, dan awalnya Jerman berhasil, terutama pada Pertempuran Frontiers (14–24 Agustus). Pada 12 September, Perancis, dengan bantuan dari pasukan Britania, menghambat pergerakan Jerman ke timur Paris pada Pertempuran Marne Pertama (5–12 September) dan mendorong pasukan Jerman 50 km ke belakang. Hari-hari terakhir pertempuran ini menandakan akhir dari peperangan bergerak di barat.[10] Serangan Perancis ke Alsace Selatan, dimulai tanggal 20 Agustus dengan Pertempuran Mulhouse, mengalami sedikit kesuksesan.
Di sebelah timur, hanya satu pasukan lapangan, yaitu pasukan ke-8, yang bergerak cepat melalui kereta api melintasi Kekaisaran Jerman. Pasukan yang dulunya cadangan di barat ini dipimpin oleh Jenderal Paul von Hindenburg untuk mempertahankan Prusia Timur, setelah berhasil melakukan serbuan awal ke Rusia dengan dua unit pasukan. Jerman mengalahkan Rusia dalam serangkaian pertempuran yang secara kolektif disebut Pertempuran Tannenberg Pertama (17 Agustus – 2 September). Akan tetapi, invasi Rusia yang gagal lebih disebabkan oleh berhentinya serangan Jerman di barat dan kekalahan taktis oleh Angkatan Darat Perancis di Marne. Pasukan Jerman semakin lelah dan pasukan cadangannya dipindahkan untuk menangani invasi ke Rusia. Staf Jenderal Jerman di bawah Jenderal Helmuth von Moltke yang Muda juga telah memperhitungkan bahwa pemanfaatan transportasi tentara cepat melalui kereta api tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan di luar Kekaisaran Jerman. Blok Sentral gagal mendapatkan kemenangan cepat di Perancis dan terpaksa berperang di dua front. Pasukan Jerman mengambil posisi defensif yang baik di dalam Perancis dan berhasil melumpuhkan mobilisasi 230.000 tentara Perancis dan Britania secara permanen. Meski begitu, masalah komunikasi dan keputusan komando yang bisa dipertanyakan menggagalkan impian kemenangan awal Jerman.[34]
Asia dan Pasifik[sunting | sunting sumber]
Selandia Baru menduduki Samoa Jerman (kemudian Samoa Barat) pada tanggal 30 Agustus 1914. Tanggal 11 September, Pasukan Ekspedisi Laut dan Militer Australia mendarat di pulau Neu Pommern (kemudian Britania Baru), yang merupakan wilayah Nugini Jerman. Tanggal 28 Oktober, kapal jelajah SMS Emden menenggelamkan kapal jelajah Jerman Zhemchug pada Pertempuran Penang. Jepang merebt koloni Mikronesia Jerman dan, setelah Pengepungan Tsingtao, pelabuhan batu bara Jerman di Qingdao di semenanjung Shandong, Cina. Dalam beberapa bulan, pasukan Sekutu telah merebut semua teritori Jerman di Pasifik; hanya pos dagang terisolasi dan sedikit wilayah di Nugini yang bertahan.[35][36]
Front Barat[sunting | sunting sumber]
Awal peperangan parit (1914–1915)[sunting | sunting sumber]
Taktik militer sebelum Perang Dunia I gagal menyamai kemajuan teknologi. Kemajuan ini memungkinkan terciptanya sistem pertahanan canggih yang tidak mampu disamai taktik militer lama sepanjang perang. Kawat berdurimerupakan penghalang efektif terhadap pergerakan infanteri massal. Artileri, jauh lebih mematikan daripada tahun 1870-an, ditambah senjata mesin, menjadikan pergerakan di daratan terbuka sangat sulit dilakukan.[37] Jerman memperkenalkan gas beracun; teknik ini kelak dipakai oleh kedua pihak, meski tidak pernah terbukti menentukan dalam memenangkan suatu pertempuran. Dampaknya sangat sadis, menyebabkan kematian yang lama dan menyakitkan, dan gas beracun menjadi salah satu hal terburuk yang paling ditakuti dan diingat dalam perang ini.[38] Komandan di kedua sisi gagal mengembangkan taktik mematahkan posisi parit dengan tanpa kerugian besar. Sementara itu, teknologi mulai menciptakan senjata-senjata ofensif baru, seperti tank.[39]
Setelah Pertempuran Marne Pertama (5–12 September 1914), baik pasukan Entente dan Jerman mengawali serangkaian manuver mengepung dalam peristiwa yang disebut "Perlombaan ke Laut". Britania dan Perancis kelak menyadari bahwa mereka menghadapi pasukan parit Jerman dari Lorraine sampai pesisir Belgia.[10] Britania dan Perancis berupaya melakukan serangan, sementara Jerman mempertahankan teritori yang diduduki. Akibatnya, parit-parit Jerman lebih kukuh ketimbang milik musuhnya, parit Inggris-Perancis hanya bersifat "sementara" sebelum pasukan mereka mematahkan pertahanan Jerman.[40]
Kedua sisi mencoba memecah kebuntuan menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada tanggal 22 April 1915 pada Pertempuran Ypres Kedua, Jerman (melanggar Konvensi Den Haag) memakai gas klorin untuk pertama kalinya di Front Barat. Tentara Aljazair mundur ketika digas sehingga terbentuk celah sepanjang enam kilometer (empat mil) terbuka di lini Sekutu yang segera dimanfaatkan Jerman, mengadakan Pertempuran Kitchener's Wood, sebelum ditutup oleh tentara Kanada.[41] Tank pertama dipakai dalam pertempuran oleh Britania pada Pertempuran Flers-Courcelette (bagian dari serangan Somme yang lebih besar) pada tanggal 15 September 1916 dengan sedikit keberhasilan; Perancis memperkenalkan meriam putar Renault FT pada akhir 1917; Jerman memanfaatkan tank-tank Sekutu yang ditangkap dan sejumlah kecil tank mereka sendiri.
Kelanjutan peperangan parit (1916–1917)[sunting | sunting sumber]
Kedua sisi tidak mampu memberi pukulan menentukan selama dua tahun berikutnya. Sekitar 1,1 sampai 1,2 juta tentara pasukan Britania dan jajahannya berada di Front Barat pada satu waktu.[42] Seribu batalion, menempati sektor lini dari Laut Utara sampai Sungai Orne, melakukan sistem rotasi empat tahap selama satu bulan, kecuali sebuah serangan sedang terjadi. Front ini memiliki parit sepanjang 9,600 kilometer (5,965 mi). Setiap batalion menduduki sektornya selama seminggu sebelum kembali ke lini pendukung dan terus ke lini cadangan sebelum seminggu di luar lini, biasanya di wilayah Poperinge atau Amiens.
Sepanjang 1915–17, Imperium Britania dan Perancis mengalami lebih banyak korban daripada Jerman, karena sikap strategi dan taktik yang dipilih oleh sisinya. Secara strategis, saat Jerman hanya melakukan satu serangan tunggal di Verdun, Sekutu melakukan banyak upaya untuk mematahkan lini Jerman.
Pada tanggal 1 Juli 1916, Angkatan Darat Britania Raya mengalami hari paling mematikan dalam sejarahnya, dengan korban 57.470 jiwa, termasuk 19.240 gugur, pada hari pertama Pertempuran Somme. Kebanyakan korban jatuh pada satu jam pertama serangan. Seluruh serangan Somme melibatkan setengah juta prajurit Angkatan Darat Britania.[43]
Serangan Jerman yang terus-menerus di Verdun sepanjang 1916,[44] ditambah Somme (Juli dan Agustus 1916), membawa pasukan Perancis yang lelah di ambang perpecahan. Upaya sia-sia dalam serangan frontal memakan banyak korban bagi Britania dan poiluPerancis dan mendorong terjadinya mutini besar-besaran tahun 1917, setelah Serangan Nivelle (April dan Mei 1917) yang gagal.[45]
Secara taktis, doktrin komandan Jerman Erich Ludendorff berupa "pertahanan elastis" cocok dipakai untuk peperangan parit. Pertahanan ini terdiri dari posisi depan yang minim pertahanan dan posisi utama jauh di belakang jangkauan artileri yang lebih kuat, yang dari situlah serangan balasan cepat dan kuat bisa dilancarkan.[46][47]
Ludendorff menulis tentang pertempuran tahun 1917,
25 Agustus mengakhiri fase kedua pertempuran Flandria. Peristiwa ini memakan banyak korban dari pihak kami ... Pertempuran Agustus mematikan di Flandria dan Verdun membawa tekanan berat bagi tentara Barat. Meski di bawah perlindungan beton, semua tampak kurang kuat menghadapi artileri musuh yang luar biasa. Pada beberapa saat, mereka tidak lagi memiliki ketegasan yang saya, bersama para komandan setempat, harapkan. Musuh berupaya mengadaptasikan diri mereka dengan metode kakmi dalam melakukan serangan balasan ... Saya sendiri mengalami tekanan luar biasa. Suasana di Barat tampak mencegah dilakukannya rencana-rencana kami di manapun. Jumlah korban begitu banyak sehingga kami tidak sempat menguburkan mereka secara layak, dan melebihi semua harapan kami.[48]
Pada pertempuran Menin Road Ridge, Ludendorff menulis,
Serangan besar lain dilancarkan terhadap lini kami pada tanggal 20 September ... Serangan musuh terhadap pasukan ke-20 berhasil, yang membuktikan superioritas serangan terhadap pertahanan. Kekuatan mereka tidak melibatkan tank; kami melihat mereka begitu tidak nyaman, tetapi terus mengerahkan semuanya. Kekuatan serangan terletak di artileri, dan faktanya artileri kami tidak mampu memberi dampak yang cukup untuk memecah infanteri saat mereka terus bersatu pada saat itu juga.[49]
Pada Pertempuran Arras 1917, satu-satunya keberhasilan besar militer Britania adalah penaklukan Vimy Ridge oleh Korps Kanada di bawah pimpinan Sir Arthur Currie dan Julian Byng. Tentara yang menyerang, untuk pertama kalinya, mampu mengalahkan, bersatu dengan cepat, dan mempertahankan pegunungan yang membatasi dataran Douai yang kaya akan kandungan batu bara.[50][51]
Perang laut[sunting | sunting sumber]
Pada awal perang, Kekaisaran Jerman memiliki kapal jelajah yang tersebar di seluruh dunia, beberapa di antaranya dipakai untuk menyerang kapal dagang Sekutu. Angkatan Laut Kerajaan Britania Raya secara sistematis memburu mereka, meski menanggun malu akibat ketidakmampuannya melindungi kapal Sekutu. Misalnya, kapal jelajah ringan Jerman SMS Emden, bagian dari skadron Asia Timur yang berpusat di Tsingtao, menangkap atau menghancurkan 15 kapal dagang, serta menenggelamkan sebuah kapal jelajah Rusia dan kapal penghancur Perancis. Namun sebagian besar Skadron Asia Timur Jerman—terdiri dari kapal jelajah lapis baja Scharnhorst dan Gneisenau, kapal jelajah ringan Nürnberg dan Leipzig dan dua kapal angkut—tidak diberi perintah mencegat jalur perkapalan dan malah diperintahkan kembali ke Jerman ketika bertemu kapal perang Britania. Armada Jerman dan Dresdenmenenggelamkan dua kapal jelajah lapis baja pada Pertempuran Coronel, namun hampir hancur pada Pertempuran Kepulauan Falkland bulan Desember 1914, dengan Dresden dan beberapa kapal pembantu berhasil kabur, tetapi pada Pertempuran Más a Tierra kapal-kapal tadi akhirnya hancur atau ditangkap.[52]
Sesaat setelah pecahnya pertempuran, Britania memulai blokade laut Jerman. Strategi ini terbukti efektif, memutuskan suplai militer dan sipil, meski blokade ini melanggar hukum internasional yang diatur oleh beberapa perjanjian internasional selama dua abad terakhir.[53] Britania membuang ranjau di perairan internasional untuk mencegah kapal apapun memasuki seluruh wilayah samudra, sehingga membahayakan kapal yang netral sekalipun.[54] Karena ada sedikit tanggapan terhadap taktik ni, Jerman mengharapkan taktik yang sama terhadap peperangan kapal selamnya yang tidak terhambat.[55]
Pertempuran Jutland (Jerman: Skagerrakschlacht, atau "Pertempuran Skagerrak") 1916 berubah menjadi pertempuran laut terbesar dalam perang ini, satu-satunya pertempuran kapal perang berskala besar dalam Perang Dunia I, dan salah satu yang terbesar dalam sejarah. Pertempuran ini terjadi pada tanggal 31 Mei – 1 Juni 1916 di Laut Utara lepas pantai Jutland. Armada Laut Lepas Kaiserliche Marine, dipimpin Wakil Laksamana Reinhard Scheer, berperang melawan Armada Besar Angkatan Laut Kerajaan, dipimpin Laksamana Sir John Jellicoe. Pertempuran ini buntu, karena Jerman, yang kalah jumlah dengan armada Britania, berhasil kabur dan mengakibatkan kerusakan lebih banyak bagi armada Britania daripada yang mereka terima. Secara strategis, Britania menguasai lautan, dan sebagian besar armada permukaan Jerman masih tertahan di pelabuhan selama perang berlangsung.[56]
Kapal-U Jerman berusaha memotong jalur suplai antara Amerika Utara dan Britania.[57] Sifat peperangan kapal selam berarti bawha serangan bisa datang tanpa peringatan, sehingga memberi kemungkinan selamat yang kecil bagi awak kapal dagang.[57][58] Amerika Serikat mengeluarkan protes, dan Jerman mengganti aturan pertempuran. Setelah penenggelaman kapal penumpang RMS Lusitania tahun 1915, Jerman berjanji tidak lagi menyerang kapal penumpang, sementara Britania mempersenjatai kapal-kapal dagangnya dan menempatkan mereka di luar perlindungan "aturan kapal jelajah" yang meminta peringatan dan penempatan awak di "tempat aman" (standar yang tidak dimiliki sekoci).[59] Akhirnya, pada awal 1917, Jerman menerapkan kebijakan peperangan kapal selam tak terbatas, menyadari bahwa Amerika Serikat akan ikut berperang.[57][60]Jerman berupaya menghambat jalur laut Sekutu sebelum Amerika Serikat dapat memindahkan pasukan dalam jumlah besar ke luar negeri, tetapi hanya mampu mengerahkan lima kapal-U jarak jauh dengan dampak yang sedikit.[57]
Ancaman kapal-U berkurang pada tahun 1917, ketika kapal-kapal dagang mulai berlayar dalam bentuk konvoi dan dikawal kapal penghancur. Taktik ini terbukti sulit bagi kapal-U untuk mencari target, sehingga mengurangi kerugian; setelah hidrofon dan ranjau bawah air diperkenalkan, kapal penghancur pengawal bisa menyerang kapal selam dengan kemungkinan berhasil. Konvoi memperlambat aliran suplai, karena kapal harus menunggu saat konvoi dibentuk. Solusi terhadap penundaan ini adalah program pembangunan kapal angkut baru secara besar-besaran. Kapal tentara terlalu cepat untuk dikejar kapal selam dan tidak berlayar di Atlantik Utara dalam konvoi.[61] Kapal-U telah menenggelamkan lebih dari 5.000 kapal Sekutu dengan kerugian sebanyak 199 kapal selam.[62]
Perang Dunia I juga menjadi peristiwa ketika kapal angkut pesawat pertama kali dipakai dalam pertempuran, dengan HMS Furiousmeluncurkan pesawat Sopwith Camels dalam serangan sukses terhadap hangar Zeppelin di Tondern pada bulan Juli 1918, serta blimp untuk patroli antikapal selam.[63]
Teater Selatan[sunting | sunting sumber]
Perang di Balkan[sunting | sunting sumber]
Menghadapi Rusia, Austria-Hongaria hanya mampu menyisihkan sepertiga pasukannya untuk menyerang Serbia. Setelah mengalami kerugian besar, Austria sementara berhasil menduduki ibu kota Serbia, Belgrade. Serangan balasan Serbia pada pertempuran Kolubara berhasil mengusir mereka dari negara ini pada akhir 1914. Selama sepuluh bulan pertama 1915, Austria-Hongaria memanfaatkan sebagian besar cadangan militernya untuk berperang dengan Italia. Akan tetapi, diplomat Jermen dan Austria-Hongaria mengusulkan kudeta dengan membujuk Bulgaria agar ikut menyerang Serbia. Provinsi Slovenia, Kroasia, dan Bosnia menyediakan bala tentara untuk Austria-Hongaria, menyerbu Serbia sekaligus menghadapi Rusia dan Italia. Montenegro berpihak pada Serbia.[65]
Serbia dikuasai dalam kurun satu bulan lebih sedikit, setelah Blok Sentral, sekarang mencakup Bulgaria, mengirimkan 600.000 tentara. Pasukan Serbia, berperang di dua front dan menghadapi kekalahan telak, mundur ke Albania utara (yang sudah mereka duduki sejak awal perang[diragukan ]). Serbia kalah pada Pertempuran Kosovo. Montenegro melindungi mundurnya Serbia ke pantai Adriatik pada Pertempuran Mojkovac tanggal 6–7 Januari 1916, namun Austria pada akhirnya menduduki Montenegro. 70.000 tentara Serbia tersisa dievakuasi dengan kapal ke Yunani.[66]
Pada akhir 1915, satu pasukan Perancis-Britania mendarat di Salonika, Yunani, untuk memberi bantuan dan menekan pemerintah setempat untuk menyatakan perang terhadap Blok Sentral. Sayang sekali bagi Sekutu, Raja Constantine I yang pro-Jerman membubarkan pemerintahan Eleftherios Venizelos yang pro-Sekutu, sebelum pasukan ekspedisi Sekutu tiba.[67] Pertentangan antara raja Yunani dan Sekutu terus memuncak dengan terjadinya Skisma Nasional, yang efektif membelah Yunani menjadi wilayah yang setia pada raja dan pemerintahan sementara Venizelos di Salonika. Setelah negosiasi diplomatik intensif dan konfrontasi bersenjata di Athena antara pasukan Sekutu dan royalis (insiden Noemvriana), raja Yunani mundur dan putra keduanya, Alexander, menggantikannya. Venizelos pulang ke Athena tanggal 29 Mei 1917 dan Yunani, setelah bersatu, secara resmi bergabung di pihak Sekutu. Seluruh pasukan Yunani dimobilisasi dan mulai berpartisipasi dalam operasi militer melawan Blok Sentral di front Makedonia.
Setelah penaklukan, Serbia dibagi antara Austria-Hongaria dan Bulgaria. Pada tahun 1917, Serbia melancarkan Pemberontakan Toplica dan sempat membebaskan wilayah antara pegunungan Kopaonik dan sungai Morava Selatan. Pemberontakan ini dipadamkan oleh pasukan gabungan Bulgaria dan Austria pada akhir Maret 1917.
Front Makedonia pada awalnya cenderung statis. Pasukan Perancis dan Serbia menduduki kembali sedikit wilayah Makedonia dengan menaklukkan Bitola tanggal 19 November 1916 sebagai hasil dari Serangan Monastir yang membawa kestabilan di front ini.
Tentara Serbia dan Perancis akhirnya membuat terobosan, setelah sebagian besar tentara Jerman dan Austria-Hongaria ditarik. Terobosan ini penting dalam mengalahkan Bulgaria dan Austria-Hongaria, yang berujung pada kemenangan akhir PDI. Bulgaria mengalami kekalahan satu-satunya dalam perang pada Pertempuran Dobro Pole, namun beberapa hari kemudian mereka berhasil mengalahkan pasukan Britania dan Yunani pada Pertempuran Doiran demi menghindari pendudukan. Setelah Serbia menerobos perbatasan Bulgaria, Bulgaria menyerah pada tanggal 29 September 1918.[68] Hindenburg dan Ludendorff menyimpulkan bahwa keseimbangan strategi dan operasi sekarang telah beralih melawan Blok Sentral dan sehari setelah kejatuhan Bulgaria, pada pertemuan pejabat-pejabat pemerintahan, mereka mengupayakan penyelesaian secara damai secepat mungkin.[69]
Hilangnya front Makedonia menandakan bahwa jalan ke Budapest dan Wina terbuka untuk 670.000 tentara pimpinan Jenderal Franchet d'Esperey setelah menyerahnya Bulgaria memberi Blok Sentral kerugian sebanyak 278 batalion infanteri dan 1.500 senjata (sama besar dengan 25 sampai 30 divisi Jerman) yang sebelumnya mempertahankan perbatasan.[70] Komando tinggi Jerman merespon dengan mengirimkan tujuh infanteri dan satu divisi kavaleri saja, tetapi pasukan ini terlalu jauh dari front dan sudah terlambat.[70]
Kesultanan Utsmaniyah[sunting | sunting sumber]
Kesultanan Utsmaniyah bergabung dengan Blok Sentral pada perang ini, Aliansi Utsmaniyah-Jerman yang rahasia telah ditandatangani pada bulan Agustus 1914.[71] Aliansi ini mengancam teritori Kaukasus Rusia dan komunikasi Britania dengan India melalui Terusan Suez. Britania dan Perancis membuka front seberang laut melalui Kampanye Gallipoli(1915) dan Mesopotamia. Di Gallipoli, Kesultanan Utsmaniyah berhasil mengusir Britania, Perancis, dan Korps Angkatan Darat Australia dan Selandia Baru (ANZAC). Di Mesopotamia, sebaliknya, setelah Pengepungan Kut (1915–16) yang menghancurkan, pasukan Imperium Britania melakukan reorganisasi dan menduduki Baghdad pada bulan Maret 1917.
Jauh ke barat, Terusan Suez berhasil dipertahankan dari serangan Utsmaniyah tahun 1915 dan 1916; pada bulan Agustus, pasukan gabungan Jerman dan Utsmaniyah dikalahkan pada Pertempuran Romani oleh Pasukan Berkuda Anzac dan Divisi Infanteri (Dataran rendah) ke-52. Setelah kemenangan ini, Pasukan Ekspedisi Mesir Imperium Britania maju melintasi Semenanjung Sinai, mendorong pasukan Utsmaniyah pada Pertempuran Magdhaba bulan Desember dan Pertempuran Rafa di perbatasan antara Sinai Mesir dan Palestina Utsmaniyah bulan Januari 1917.
Angkatan darat Rusia sedang jaya-jayanya di Kaukasus. Enver Pasha, komandan tertinggi angkatan bersenjata Utsmaniyah, sangat ambisius dan bermimpi menguasai kembali Asia Tengah dan wilayah-wilayah yang diduduki Rusia sebelumnya. Akan tetapi, ia bukan komandan yang cerdas.[72] Ia melancarkan serangan terhadap Rusia di Kaukasus bulan Desember 1914 dengan 100.000 tentara; akibat memaksakan serangan frontal di kawasan pegunungan Rusia saat musim dingin, ia kehilangan 86% pasukannya pada Pertempuran Sarikamish.[73]
Jenderal Yudenich, komandan Rusia pada 1915 sampai 1916, mengusir Turki keluar dari sebagian besar Kaukasus selatan dengan serangkaian kemenangan.[73] Bulan 1917, Adipati Agung Nicholas dari Rusia mengambil alih komando atas front Kaukasus. Nicholas berencana membangun rel kereta dari Georgia Rusia ke teritori taklukan, sehingga suplai segar bisa dikirimkan ke serangan baru tahun 1917. Sayangnya, pada bulan Maret 1917 (Februari dalam kalender Rusia pra-revolusi), Tsar dijatuhkan dalam Revolusi Februari dan Angkatan Darat Kaukasus Rusia mulai terpecah.
Dimulai oleh biro Arab dari Departemen Luar Negeri Britania Raya, Pemberontakan Arab dimulai dengan bantuan Britania bulan Juni 1916 pada Pertempuran Makkah, dipimpin Sherif Hussein dari Makkah dan berakhir dengan penyerahan Damaskus oleh Utsmaniyah. Fakhri Pasha, komandan Utsmaniyah di Madinah, bertahan selama lebih dari 2,5 tahun selama Pengepungan Madinah.[74]
Di sepanjang perbatasan Libya Italia dan Mesir Britania, suku Senussi, didorong dan dipersenjatai Turki, melakukan perang gerilya kecil terhadap tentara Sekutu. Britania terpaksa mengerahkan 12.000 tentaranya untuk menghadapi mereka dalam Kampanye Senussi. Pemberontakan mereka dipatahkan pada pertengahan 1916.[75]
Partisipasi Italia[sunting | sunting sumber]
Italia telah bersekutu dengan Kekaisaran Jerman dan Austria-Hongaria sejak 1882 sebagai bagian dari Aliansi Tiga. Akan tetapi, bangsa ini memiliki klaim tersendiri atas teritori Austria di Trentino, Istria, dan Dalmatia. Roma memiliki pakta rahasia dengan Perancis tahun 1902, sehingga efektif meniadakan aliansi ini.[76] Pada awal perang, Italia menolak mengirimkan tentara dengan alasan bahwa Aliansi Tiga bersifat defensif dan Austria-Hongaria adalah agresor. Pemerintah Austria-Hongaria mulai bernegosiasi untuk mengamankan kenetralan Italia dengan memberi imbalan koloni Perancis di Tunisia. Sekutu memberi tawaran balasan bahwa Italia bisa memperoleh Tirol Selatan, Padang Julian dan teritori pesisir Dalmatia setelah kekalahan Austria-Hongaria. Tawaran ini diresmikan oleh Perjanjian London. Terdorong oleh invasi Sekutu ke Turki bulan April 1915, Italia bergabung dengan Entente Tiga dan menyatakan perang terhadap Austria-Hongaria pada tanggal 23 MEi. Lima belas bulan kemudian, Italia menyatakan perang terhadap Jerman.
Secara militer, Italia memiliki superioritas jumlah. Keuntungan ini akhirnya hilang, bukan hanya karena medan peperangan yang sulit, tetapi juga karena strategi dan taktik yang dipakai. Marsekal Lapangan Luigi Cadorna, seorang pendukung keras serangan frontal, ingin sekali maju hingga plato Slovenia, menduduki Ljubljana dan mengancam Wina. Rencana Cadorna tidak mencakup sulitnya medan Alpen yang bergunung-gunung, atau perubahan teknologi yang menciptakan peperangan parit, sehingga memunculkan serangkaian serangan mematikan dan buntu.
Di front Trentino, Austria-Hongaria memanfaatkan daerah pegunungan yang menguntungkan pasukan Italia. Setelah kemunduran strategis pertama, front ini masih belum berubah drastis, sementara Kaiserschützen dan Standschützen Austria menghadapi AlpiniItalia dalam pertempuran alot sepanjang musim panas. Austria-Hongaria menyerang balik di Altopiano Asiago, menghadap Verona dan Padua, pada musim semi 1916 (Strafexpedition), namun hanya membuat sedikit kemajuan.
Berawal pada tahun 1915, Italia di bawah pimpinan Cadorna mengadakan sebelas serangan di front Isonzo di sepanjang Sungai Isonzo, timur laut Trieste. Kesebelas serangan tersebut digagalkan oleh Austria-Hongaria, yang menguasai dataran yang lebih tinggi. Pada musim panas 1916, Italia menduduki kota Gorizia. Setelah kemenangan kecil ini, front tetap statis selama setahun meski Italia melakukan beberapa serangan. Pada musim gugur 1917, berkat situasi yang membaik di front Timur, tentara Austria-Hongaria menerima banyak sekali bantuan, termasuk Stormtrooper dan pasukan elit Alpenkorps Jerman.
Blok Sentral melancarkan serangan menghancurkan pada tanggal 26 Oktober 1917 yang dipimpin oleh Jerman. Mereka menang di Caporetto. Angkatan Darat Italia dialihkan dan mundur sejauh lebih dari 100 kilometer (62 mi) untuk reorganisasi, sehingga menstabilkan front di Sungai Piave. Karena pada Pertempuran Caporetto AD Italia mengalami kerugian besar, pemerintah Italia mengadakan wajib militer yang disebut '99 Laki-Laki (Ragazzi del '99): yaitu semua pria berusia 18 tahun. Pada tahun 1918, Austria-Hongaria gagal menerobos pertahanan Italia dalam serangkaian pertempuran di Sungai Piave, dan akhirnya dikalahkan pada Pertempuran Vittorio Veneto bulan Oktober tahun itu. Tanggal 5–6 November 1918, pasukan Italia dilaporkan telah mencapai Lissa, Lagosta, Sebenico, dan permukiman lain di pesisir Dalmatia.[77] Pada akhir perang bulan November 1918, militer Italia memegang kendali atas seluruh Dalmatia yang telah dijanjikan kepada Italia oleh Pakta London.[78] Tahun 1918, Laksamana Enrico Millomenyatakan dirinya sebagai Gubernur Dalmatia Italia.[78] Austria-Hongaria menyerah pada awal November 1918.[79][80]
Partisipasi Rumania[sunting | sunting sumber]
Rumania telah bersekutu dengan Blok Sentral sejak 1882. Ketika perang dimulai, negara ini malah menyatakan netral dengan alasan karena Austria-Hongaria sendirian menyatakan perang terhadap Serbia, Rumania tidak wajib ikut serta dalam perang. Ketika Blok Entente menjanjikan Rumania teritori besar di Hongaria timur (Transylvania dan Banat) yang memiliki populasi Rumania besar dengan imbalan Rumania menyatakan perang terhadap Blok Sentral, pemerintah Rumania menyatakan tidak lagi netral. Pada tanggal 27 Agustus 1916, Angkatan Darat Rumania melancarkan serangan terhadap Austria-Hongaria dengan sedikit bantuan dari Rusia. Serangan Rumania awalnya sukses, memukul tentara Austria-Hongaria di Transylvania, namun serangan balasan oleh pasukan Blok Sentral memukul kembali pasukan Rusia-Rumania. Sebagai akibat dari Pertempuran Bukares, Blok Sentral menduduki Bukares tanggal 6 Desember 1916. Peperangan di Moldova terus berlanjut tahun 1917 dan berakhir dengan kebuntuan yang merugikan bagi Blok Sentral.[81][82] Rusia menarik diri dari perang pada akhir 1917 akibat Revolusi Oktober yang berarti Rumania terpaksa menandatangani gencatan senjata dengan Blok Sentral pada tanggal 9 Desember 1917.
Bulan Januari 1918, pasukan Rumania menguasai Bessarabia setelah AD Rusia meninggalkan provinsi tersebut. Melalui perjanjian yang ditandatangani pemerintah Rumania dan Rusia Bolshevik pasca pertemuan tanggal 5–9 Maret 1918 tentang penarikan pasukan Rumania dari Bessarabia dalam kurun dua bulan, pada tanggal 27 Maret 1918 Rumania memasukkan Bessarabia ke dalam teritorinya, secara formal berdasarkan pada resolusi yang disahkan majelis teritori setempat tentang penyatuan dengan Rumania.
Rumania secara resmi berdamai dengan Blok Sentral dengan menandatangani Perjanjian Bukares tanggal 7 Mei 1918. Rumania wajib mengakhiri perang dengan Blok Sentral dan membuat sedikit konsensi teritori ke Austria-Hongaria, memberikan kendali atas sejumlah celah di Pegunungan Carpathia, dan memberi konsesi minyak ke Jerman. Sebagai imbalannya, Blok Sentral mengakui kedaulatan Rumania atas Bessarabia. Perjanjian ini dihapus bulan Oktober 1918 oleh pemerintahan Alexandru Marghiloman, dan Rumania kembali masuk kancah perang pada tanggal 10 November 1918. Keesokan harinya, Perjanjian Bukares dinulifikasi sesuai ketentuan Gencatan Senjata Compiègne.[83][84] Total korban Rumania sejak 1914 sampai 1918, militer dan sipil di perbatasan lama diperkirakan mencapai 784.000 jiwa.[85]
Peran India[sunting | sunting sumber]
Info lebih lanjut: Perang Inggris-Afghanistan Ketiga dan Konspirasi Hindu-Jerman
Berbeda dengan kekhawatiran Britania akan terjadinya pemberontakan di India, pecahnya Perang Dunia I malah memunculkan loyalitas dan niat baik terhadap Britania Raya.[86][87] Para pemimpin politik India dari Kongres Nasional India dan kelompok-kelompok lain mau mendukung upaya perang Britania karena yakin bahwa dukungan kuat untuk perang akan mendorong disetujuinya Pemerintahan Bebas India. Angkatan Darat India mengalahkan jumlah Angkatan Darat Britania pada awal perang; sekitar 1,3 juta tentara dan pekerja India tersebar di Eropa, Afrika, dan Timur Tengah, sementara pemerintah pusat dan negara kepangeranan mengirimkan suplai makanan, uang, dan amunisi dalam jumlah besar. Secara keseluruhan, 140.000 tentara ditempatkan di Front Barat dan hampir 700.000 tentara di Timur Tengah. Total korban dari tentara India sepanjang Perang Dunia I berjumlah 47.746 gugur dan 65.126 terluka.[88] Penderitaan akibat perang serta kegagalan pemerintah Britania untuk memberikan pemerintahan bebas kepada India setelah perang berakhir memunculkan disilusi dan mendorong kampanye kemerdekaan penuh yang kelak dipimpin oleh Mohandas Karamchand Gandhi dan teman-temannya.
Front Timur[sunting | sunting sumber]
Tindakan awal[sunting | sunting sumber]
Saat Front Barat mencapai kebuntuan, perang terus berlanjut di Eropa Timur. Rencana awal Rusia adalah melakukan invasi bersamaan terhadap Galisia Austria dan Prusia Timur Jerman. Meski serbuan awal Rusia ke Galisia sukses besar, Rusia dipukul mundur dari Prusia Timur oleh Hindenburg dan Ludendorff di Tannenberg dan Danau Masurian bulan Agustus dan September 1914.[89][90] Basis industri Rusia yang kurang maju dan kepemimpinan militernya yang tidak efektif juga memainkan peran dalam peristiwa selanjutnya. Pada musim semi 1915, Rusia mundur ke Galisia, dan pada bulan Mei, Blok Sentral melakukan terobosan luar biasa di front selatan Polandia.[91] Pada tanggal 5 Agustus, mereka menduduki Warsawa dan mengusir Rusia dari Polandia.
Revolusi Rusia[sunting | sunting sumber]
Meski berhasil pada Serangan Brusilov bulan Juni 1916 di timur Galisia,[92]ketidakpuasan atas operasi perang pemerintah Rusia muncul. Kesuksesan serangan ini dirusak oleh keengganan jenderal-jenderal lain untuk mengirimkan pasukan mereka untuk mendukung kemenangan ini. Pasukan Sekutu dan Rusia sementara terbangkitkan oleh masuknya Rumania ke Perang Dunia pada tanggal 27 Agustus. Pasukan Jerman datag membantu Austria-Hongaria di Transylvania, dan Bukares jatuh ke Blok Sentral pada tanggal 6 Desember. Sementara itu, kerusuhan terjadi di Rusia saat Tsar masih berada di garis depan. Pemerintahan Permaisuri Alexandra yang semakin tidak kompeten mendorong protes dan berujung pada pembunuhan tokoh favoritnya, Rasputin, pada akhir 1916.
Bulan Maret 1917, demonstrasi di Petrograd memuncak dengan pengunduran diri Tsar Nicholas II dan penyusunan Pemerintah Darurat lemah yang berbagi kekuasaan dengan sosialis Petrograd Soviet. Pembentukan ini menciptakan kebingungan dan kekacauan baik di garis depan dan dalam negeri. Angkatan darat pun semakin tidak efektif.[91]
Ketidakpuasan dan kelemahan Pemerintah Darurat membuat Partai Bolshevik pimpinan Vladimir Lenin semakin populer, yang meminta penghentian perang secepat mungkin. Pemberontakan bersenjata Bolshevik bulan November yang sukses diikuti dengan gencatan senjata dan negosiasi dengan Jerman pada bulan Desember. Awalnya, Bolshevik menolak permintaan Jerman, namun ketika tentara Jerman mulai bergerak melintasi Ukraina tanpa perlawanan, pemerintahan baru ini membuat Perjanjian Brest-Litovsktanggal 3 Maret 1918. Perjanjian ini menyerahkan banyak sekali teritori, termasuk Finlandia, provinsi-provinsi Baltik, sebagian Polandia dan Ukraina ke Blok Sentral.[93] Meski Jerman tampak sukses besar, sumber daya manusia yang dibutuhkan Jerman untuk menduduki bekas teritori Rusia mungkin turut berkontribusi pada kegagalan Serangan Musim Semi dan mengamankan sedikit bahan pangan atau material lainnya.
Melalui adopsi Perjanjian Brest-Litovsk, Entente tidak lagi berdiri. Pasukan Sekutu memimpin invasi kecil ke Rusia, pertama untuk menghentikan Jerman mengeksploitasi sumber daya alam Rusia, dan kedua untuk mendukung "Kaum Putih" (lawan dari "Kaum Merah") pada Perang Saudara Rusia.[94] Tentara Sekutu mendarat di Arkhangelsk dan Vladivostok.
Rencana Blok Sentral untuk negosiasi damai[sunting | sunting sumber]
Pada bulan Desember 1916, setelah sepuluh bulan mematikan pada Pertempuran Verdun dan serangan sukses terhadap Rumania, Jerman berupaya menegosiasikan perdamaian dengan Sekutu. Presiden A.S. Woodrow Wilson segera berusaha mengintervensi selaku pencinta damai dan meminta kedua pihak diberi catatan untuk menyatakan permintaan mereka. Kabinet Perang Lloyd George menganggap tawaran Jerman sebagai jebakan untuk menciptakan perpecahan di kalangan Sekutu. Setelah kemarahan awal dan banyak pertimbangan, mereka menganggap catatan Wilson sebagai upaya terpisah yang menandakan bahwa A.S. berada di ambang pintu perang melawan Jerman pasca-"kekejaman kapal selam". Saat Sekutu mendiskusikan balasan terhadap tawaran Wilson, Jerman memilih untuk mengabaikannya demi "pertukaran pandangan langsung". Mengetahui tanggapan Jerman seperti itu, pemerintah Sekutu bebas membuat permintaan jelas dalam balasan mereka tanggal 14 Januari. Mereka menuntut perbaikan kerusakan, pengosongan teritori dudukan, biaya perbaikan untuk Perancis, Rusia, dan Rumania, dan pengakuan prinsip kebangsaan. Hal ini meliputi pembebasan bangsa Italia, Slavia, Rumania, Ceko-Slovak, dan pembentukan "Polandia bebas dan bersatu". Tentang keamanan, Sekutu menuntut jaminan yang dapat mencegah atau membatasi perang selanjutnya, lengkap dengan sanksi, sebagai persyaratan penyelesaian damai apapun.[95] Negosiasi ini gagal dan negara-negara Entente menolak tawaran Jerman, karena Jerman tidak menyatakan permintaan spesifik apapun. Kepada Wilson, negara-negara Entente menyatakan bahwa mereka tidak akan memulai negosiasi damai sampai Blok Sentral mengosongkan seluruh teritori Sekutu yang diduduki dan memberikan ganti rugi atas semua kerusakan yang diperbuat.[96]
1917–1918[sunting | sunting sumber]
Perkembangan tahun 1917[sunting | sunting sumber]
Peristiwa tahun 1917 terbukti menentukan dalam mengakhiri perang, meski dampaknya tidak terasa penuh sampai 1918.
Blokade laut Britania mulai memberi dampak serius terhadap Jerman. Sebagai tanggapan, pada bulan Februari 1917, Staf Jenderal Jerman meyakinkan Kanselir Theobald von Bethmann-Hollweg untuk menggelar perang kapal selam tanpa batas, dengan tujuan membuat Britania menarik diri dari perang. Para perencana Jerman memperkirakan bahwa perang kapal selam tanpa batas akan merugikan Britania 600.000 ton kapal per bulannya. Staf Jenderal mengakui bahwa kebijakan ini mungkin nyaris membawa Amerika Serikat ke dalam konflik ini, namun memperkirakan bahwa kerugian perkapalan Britania begitu tinggi sehingga mereka bisa dipaksa meminta perdamaian setelah 5 sampai 6 bulan, sebelum intervensi Amerika Serikat berpengaruh terhadap konflik. Kenyataannya, tonase kapal yang tenggelam di atas 500.000 ton per bulan mulai Februari sampai Juli. Jumlah ini meningkat menjadi 860.000 ton pada bulan April. Setelah Juli, sistem konvoi baru yang diperkenalkan kembali menjadi sangat efektif mengurangi ancaman kapal-U. Britania selamat dari ketiadaan armada kapal, sementara produksi industri Jerman jatuh, dan tentara Amerika Serikat ikut berperang dalam jumlah besar lebih cepat daripada yang diperkirakan Jerman.
Tanggal 3 Mei 1917, selama Serangan Nivelle, Divisi Kolonial ke-2 Perancis yang lelah, para veteran Pertempuran Verdun, menolak perintah atasannya, tiba dalam keadaan mabuk dan tanpa membawa senjata. Perwira mereka tidak berani menghukum seluruh divisi dan hukuman keras tidak segera diberlakukan. Kemudian, pemberontakan militer dialami oleh 54 divisi Perancis dan 200.000 prajuritnya desersi. Pasukan Sekutu lainnya menyerang, namun menderita kerugian luar biasa.[97] Akan tetapi, seruan patriotisme dan tugas, serta penahanan dan pengadilan massal, membuat para prajurit kembali mempertahankan parit, meski tentara Perancis menolak berpartisipasi dalam operasi serangan selanjutnya.[98] Robert Nivelle dicopot dari jabatannya pada 15 Mei, digantikan oleh Jenderal Philippe Pétain, yang menunda sejumlah serangan mematikan berskala besar.
Kemenangan Austria-Hongaria dan Jerman pada Pertempuran Caporetto mendorong Sekutu di Konferensi Rapallo membentuk Dewan Perang Agung untuk mengoordinasikan perencanaan. Sebelumnya, pasukan Britania dan Perancis beroperasi di bawah komando yang berbeda.
Bulan Desember, Blok Sentral menandatangani gencatan senjata dengan Rusia. Perjanjian ini membebaskan sejumlah besar tentara Jerman agar bisa dipakai di barat. Dengan bantuan Jerman dan tentara Amerika Serikat baru masuk, hasil perang akan ditentukan di Front Barat. Blok Sentral tahu bahwa mereka tidak mampu memenangkan perang yang berlarut-larut, tetapi mereka memiliki harapan besar untuk berhasil berdasarkan serangan cepat terakhir. Selain itu, para pemimpin Blok Sentral dan Sekutu semakin khawatir terhadap kerusuhan sosial dan revolusi di Eropa. Karena itu, kedua sisi berusaha meraih kemenangan menentukan dengan cepat.[99]
Konflik Kesultanan Utsmaniyah 1917[sunting | sunting sumber]
Bulan Maret dan April 1917, pada Pertempuran Gaza Pertama dan Kedua, pasukan Jerman dan Utsmaniyah menghentikan laju Pasukan Ekspedisi Mesir yang telah dimulai bulan Agustus 1916 di Romani. Pada akhir Oktober, Kampanye Sinai dan Palestinadilanjutkan setelah Korps XX, Korps XXI, dan Korps Berkuda Gurun Jenderal Edmund Allenby memenangkan Pertempuran Beersheba. Dua pasukan Utsmaniyah dikalahkan beberapa minggu kemudian pada Pertempuran Yerusalem. Pada saat itu, Friedrich Freiherr Kress von Kressenstein diberhentikan dari jabatannya sebagai komandan Angkatan Darat ke-8 dan digantikan oleh Djevad Pasha, dan beberapa bulan kemudian komandan Angkatan Darat Utsmaniyah di Palestina, Erich von Falkenhayn, digantikan oleh Otto Liman von Sanders.
Keikutsertaan Amerika Serikat[sunting | sunting sumber]
Non-intervensi[sunting | sunting sumber]
Saat pecah perang, Amerika Serikat mengambil kebijakan non-intervensi, yaitu menghindari konflik tetapi mencoba menciptakan perdamaian. Ketika sebuah kapal-U Jerman menenggelamkan kapal pesiar Britania RMS Lusitania tanggal 7 Mei 1915 yang juga menewaskan 128 warga negara Amerika Serikat, Presiden Woodrow Wilson menegaskan bahwa "Amerika Serikat terlalu bangga untuk berperang", tetapi menuntut berakhirnya serangan terhadap kapal penumpang. Jerman patuh. Wilson gagal mencoba memediasi penyelesaian. Akan tetapi, ia juga berkali-kali memperingatkan bahwa A.S. tidak akan menoleransi perang kapal selam tanpa batas karena melanggar hukum internasional. Mantan presiden Theodore Roosevelt menyebut aksi Jerman sebagai "pembajakan".[100] Wilson menang tipis dalam pemilu presiden 1916 karena para pendukungnya menyatakan bahwa "ia menjauhkan kami dari perang".
Bulan Januari 1917, Jerman melanjutkan perang kapal selam tanpa batasnya, menyadari bahwa Amerika Serikat kelak ikut dalam perang. Menteri Luar Negeri Jerman, dalam Telegram Zimmermann, mengundang Meksiko bergabung sebagai sekutu Jerman melawan Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, Jerman akan mendanai perang Meksiko dan membantu mereka mencaplok kembali teritori Texas, New Mexico, dan Arizona.[101] Wilson merilis telegram Zimmerman ke publik, dan warga AS memandangnya sebagai casus belli—penyebab perang. Wilson meminta elemen-elemen antiperang untuk mengakhiri semua perang dengan memenangkan yang satu ini dan menghapus militerisme dari dunia. Ia berpendapat bahwa perang begitu penting sehingga A.S. harus punya suara dalam konferensi perdamaian.[102]
Pernyataan perang A.S. terhadap Jerman[sunting | sunting sumber]
Setelah penenggelaman tujuh kapal dagang A.S. oleh kapal selam Jerman dan penerbitan telegram Zimmerman, Wilson menyatakan perang terhadap Jerman,[103] yang dinyatakan pada tanggal 6 April 1917 oleh Kongres A.S..
Partisipasi aktif A.S. pertama[sunting | sunting sumber]
Amerika Serikat secara formal tidak pernah menjadi anggota Sekutu, tetapi menjadi "Kekuatan Terkait" yang diberi nama sendiri. Amerika Serikat memiliki pasukan kecil, namun setelah pengesahan UU Dinas Selektif, pemerintah mewajibkan militer untuk 2,8 juta pria,[104] dan pada musim panas 1918 Amerika Serikat mengirim 10.000 tentara baru ke Perancis setiap hari. Pada tahun 1917, Kongres A.S. memberikan kewarganegaraan A.S. kepada warga Puerto Rico saat mereka mendaftar untuk ikut serta dalam Perang Dunia I sebagai bagian dari UU Jones. Jerman telah salah perkiraan, percaya bahwa dibutuhkan beberapa bulan sebelum tentara Amerika Serikat datang sehingga kedatangannya bisa dihentikan kapal-U.[105]
Angkatan Laut Amerika Serikat mengirimkan gugus kapal perang ke Scapa Flow untuk bergabung dengan Armada Besar Britania, kapal penghancur ke Queenstown, Irlandia, dan kapal selam untuk membantu melindungi konvoi. Beberapa resimen Marinir A.S.juga dikerahkan ke Perancis. Britania dan Perancis ingin pasukan A.S. dipakai untuk memperkuat tentara mereka yang sudah ditempatkan di lini pertempuran dan tidak menyia-nyiakan kapal kosong untuk membawa persediaan. A.S. menolak permintaan pertama dan menerima yang kedua. Jenderal John J. Pershing, komandan Pasukan Ekspedisi Amerika Serikat (AEF), menolak memecah pasukan A.S. agar dipakai sebagai bantuan untuk pasukan Imperium Britania dan Perancis. Sebagai pengecualian, ia mengizinkan resimen tempur Afrika-Amerika untuk bergabung dengan divisi Perancis. Harlem Hellfighters berperang sebagai bagian dari Divisi ke-16 Perancis, mendapatkan Croix de Guerreatas aksi mereka di Chateau-Thierry, Belleau Wood, dan Sechault.[106] Doktrin AEF menuntut serangan frontal, yang sejak lama ditiadakan oleh komandan Imperium Britania dan Perancis karena banyak memakan korban jiwa.[107]
Tawaran perdamaian terpisah Austria[sunting | sunting sumber]
Tahun 1917, Kaisar Charles I dari Austria secara rahasia mengupayakan negosiasi perdamaian terpisah dengan Clemenceau, bersama saudara istrinya Sixtus di Belgia sebagai penengah, tanpa sepengetahuan Jerman. Ketika negosiasi gagal, upayanya diketahui Jerman dan mengakibatkan bencana diplomatik.[108][109]
Serangan Musim Semi Jerman 1918[sunting | sunting sumber]
Jenderal Jerman Erich Ludendorff membuat rencana (dijuluki Operasi Michael) untuk serangan tahun 1918 di Front Barat. Serangan Musim Semi bermaksud memecah pasukan Britania dan Perancis melalui serangkaian penipuan dan serbuan. Pimpinan militer Jerman berharap bisa memberi pukulan menentukan sebelum tentara A.S. tiba. Operasi ini dimulai tanggal 21 Maret 1918 melalui serangan terhadap pasukan Britania dekat Amiens. Pasukan Jerman memperoleh wilayah sejauh 60 kilometer (37 mi).[110]
Parit Britania dan Perancis diterobos menggunakan taktik infiltrasi baru, disebut juga taktik Hutier sesuai nama Jenderal Oskar von Hutier. Sebelumnya, serangan memiliki ciri pengeboman artileri panjang dan serangan massal. Akan tetapi, pada Serangan Musim Semi 1918, Ludendorff jarang memakai artileri dan menyisipkan sekelompok kecil infanteri di titik-titik lemah. Mereka menyerang wilayah komando dan logistik dan menerobos titik-titik perlawanan sengit. Infanteri bersenjata berat kemudian menghancurkan posisi-posisi terisolasi ini. Keberhasilan Jerman sangat bergantung pada elemen kejutan.[111]
Front ini pindah ke daerah 120 kilometer (75 mi) dari kota Paris. Tiga senjata kereta berat Krupp menembakkan 183 bom ke ibu kota, mengakibatkan banyak warga Paris mengungsi. Serangan awal begitu sukses sampai-sampai Kaiser Wilhelm II menetapkan 24 Maret sebagai hari libur nasional. Banyak warga Jerman mengira kemenangan sudah dekat. Setelah bertempur sengit, serangan ini terhambat. Ketiadaan tank atau artileri motor membuat Jerman tidak mampu mengonsolidasikan keberhasilan mereka. Suasana juga diperburuk oleh jalur suplai yang sekarang diperpanjang akibat serbuan mereka.[112] Penghentian mendadak ini juga akibat dari empat divisi Pasukan Imperium Australia (AIF) yang "memaksa" menyerang dan melakukan apa yang belum pernah dilakukan pasukan manapun: menghentikan serbuan Jerman di tengah perjalanan. Pada saat itu, divisi Australia pertama secara terburu-buru dikirim lagi ke utara untuk menghentikan serbuan Jerman kedua.
Jenderal Foch memaksa memakai tentara Amerika yang baru tiba sebagai pengganti individu. Pershing malah berupaya menempatkan unit pasukan Amerika sebagai pasukan independen. Unit-unit tersebut ditempatkan pada komando Perancis dan Imperium Britania yang semakin sedikit pada tanggal 28 Maret. Dewan Perang Tertinggi Pasukan Sekutu dibentuk saat Konferensi Doullens tanggal 5 November 1917.[113] Jenderal Foch ditunjuk sebagai komandan tertinggi pasukan sekutu. Haig, Petain, dan Pershing mempertahankan kendali taktis atas masing-masing pasukannya; Foch mengambil peran koordinasi alih-alih pengarahan, dan komando Britania, Perancis, dan A.S. cenderung beroperasi secara independen.[113]
Setelah Operasi Michael, Jerman melancarkan Operasi Georgette terhadap pelabuhan-pelabuhan utara Selat Inggris. Sekutu menghadang upaya tersebut setelah Jerman sempat menguasai sedikit wilayah. Angkatan Darat Jerman di selatan kemudian melancarkan Operasi Blücher dan Yorck, bergerak terus menuju Paris. Operasi Marne dimulai tanggal 15 Juli yang berusaha mengepung Reims dan memulai Pertempuran Marne Kedua. Serangan balasannya memulai Serangan Seratus Hari dan menandakan serangan perang Sekutu pertama yang sukses.
Tanggal 20 Juli, Jerman berada di seberang Marne di garis awal Kaiserschlacht-nya,[114] gagal memenangkan apapun. Setelah fase terakhir perang di barat, AD Jerman tidak pernah mencapai kembali tujuannya. Korban Jerman antara Maret dan April 1918 sebanyak 270.000 jiwa, termasuk para tentara serbu yang sangat terlatih.
Sementara itu, Jerman terpecah di dalam negeri. Protes anti-perang semakin sering diadakan dan moral militer jatuh. Produksi industri mencapai 53 persen dari jumlah produksi tahun 1913.
Konflik Kesultanan Utsmaniyah 1918[sunting | sunting sumber]
Pada awal tahun 1918, garis depan pertempuran diperpanjang hingga Lembah Yordania yang terus diduduki, setelah serangan Transyordania Pertama dan Transyordania Kedua oleh pasukan Imperium Britania bulan Maret dan April 1918, sampai musim panas. Sepanjang bulan Maret, sebagian besar infanteri Britania dari Pasukan Ekspedisi Mesir dan kavaleri Yeomanry dikirim berperang di Front Barat sebagai akibat Serangan Musim Semi. Mereka digantikan oleh satuan Angkatan Darat India. Selama beberapa bulan reorganisasi dan pelatihan pada musim panas, sejumlah serangan dilancarkan di beberapa bagian garis depan Utsmaniyah. Serangan tersebut mendorong garis depan ke utara di posisi yang lebih menguntungkan bagi persiapan serangan dan menyiapkan infanteri AD India yang baru tiba. Baru pada pertengahan September pasukan bersatu ini siap melakukan operasi besar-besaran.
Pasukan Ekspedisi Mesir yang direorganisasi, bersama divisi berkuda tambahan, memecah belah pasukan Utsmaniyah pada Pertempuran Megiddo bulan September 1918. Dalam dua hari, infanteri Britania dan India, dibantu taktik merayap, berhasil memecah garis depan Utsmaniyah dan mencaplok markas besar Angkatan Darat Kedelapan di Tulkarm, jalur parit bersambungan di Tabsor, Arara, dan markas besar Angkatan Darat Ketujuh di Nablus. Korps Berkuda Gurun masuk lewat celah garis depan yang dibuat infanteri tadi selama operasi dilaksanakan tanpa henti oleh brigade Berkuda Ringan Australia, Yeomanry berkuda Britania, Lancers India, dan Bedil Berkuda Selandia Baru. Di Lembah Jezreel, mereka menduduki Nazareth, Afulah dan Beisan, Jenin, dan Haifa di pesisir Mediterania dan Daraa di timur Sungai Yordan di jalur kereta Hijaz. Samakh dan Tiberias di Laut Galilea diduduki dalam perjalanan ke utara menuju Damaskus. Sementara itu, Pasukan Chaytor yang terdiri dari pasukan berkuda ringan Australia, pasukan bedil berkuda Selandia Baru, infanteri India, Hindia Barat Britania, dan Yahudi menduduki penyeberangan Sungai Yordan, Es Salt, Amman, dan sebagian besar Angkatan Darat Keempat di Ziza. Gencatan Senjata Mudros ditandatangani pada akhir Oktober yang mengakhiri perang dengan Kesultanan Utsmaniyah, sementara perang terus berlangsung di sebelah utara Aleppo.
Negara-negara baru di zona perang[sunting | sunting sumber]
Pada akhir musim semi 1918, tiga negara baru berdiri di Kaukasus Selatan, yaitu Republik Demokratik Armenia, Republik Demokratik Azerbaijan, dan Republik Demokratik Georgia, yang menyatakan merdeka dari Kekaisaran Rusia.[115] Dua entitas minor lain juga berdiri, yaitu Kediktatoran Sentrokaspia (dilikuidasi oleh Azerbaijan pada musim gugur 1918) dan Republik Kaukasia Barat Daya (dilikuidasi oleh satuan tugas gabungan Armenia-Britania pada awal 1919). Melalui penarikan pasukan Rusia dari front Kaukasus pada musim dingin 1917–18, tiga republik besar tersebut bersiap menghadapi serbuan Utsmaniyah selanjutnya, yang dimulai pada bulan-bulan pertama 1918. Solidaritas terbentuk sementara ketika Republik Federatif Transkaukasia didirikan pada musim semi 1918 dan runtuh bulan Mei, ketika Georgia meminta dan menerima perlindungan dari Jerman dan Azerbaijan membuat perjnajian degnan Kesultanan Utsmaniyah yang lebih mirip dengan aliansi militer. Armenia dibiarkan bertahan sendiri dan berjuang selama lima bulan melawan ancaman pendudukan penuh oleh Turki Utsmaniyah.[116]
Kemenangan Sekutu: Musim panas dan gugur 1918[sunting | sunting sumber]
Serangan balasan Sekutu, dikenal sebagai Serangan Seratus Hari, dimulai pada tanggal 8 Agustus 1918. Pertempuran Amiens pecah dengan Korps III Angkatan Darat Keempat Britania Raya di sebelah kiri, Angkatan Darat Pertama Perancis di sebelah kanan, dan Korps Australia dan Kanada memimpin serangan di tengah melalui Harbonnières.[117][118]Serangan ini melibatkan 414 tank tipe Mark IV dan Mark V dan 120.000 prajurit. Mereka bergerak 12 kilometer (7.5 mi) ke dalam teritori dudukan Jerman dalam kurun tujuh jam saja. Erich Ludendorff menyebut hari itu sebagai "Hari Kelam Angkatan Darat Jerman".[117][119]
Australia-Kanada memimpin di Amiens, sebuah pertempuran yang menjadi awal keruntuhan Jerman,[49] membantu pasukan Britania bergerak ke utara dan Perancis ke selatan. Di front AD Keempat Britania di Amiens setelah maju sejauh 14 mile (23 km), perlawanan Jerman semakin sengit dan pertempuran berakhir. Tetapi AD Ketiga Perancis memperpanjang front Amiens pada tanggal 10 Agustus, ketika daerah tersebut dibiarkan begitu saja di sebelah kanan Angkatan Darat Pertama Perancis, dan maju sejauh 4 mile (6 km), membebaskan Lassigny dalam pertempuran yang berlangsung sampai 16 Agustus. Di selatan AD Ketiga Perancis, Jenderal Charles Mangin (si Pembantai) memajukan posisi AD Kesepuluh Perancis di Soissons tanggal 20 Agustus untuk menawan delapan ribu tentara musuh, dua ratus senjata, dan dataran tinggi Aisne yang menghadap dan mengancam posisi Jerman di sebelah utara Vesle.[120] Erich Ludendorff juga menyebut peristiwa ini sebagai "Hari Kelam".
Sementara itu, Jenderal Byng dari AD Ketiga Britania melaporkan bahwa musuh di frontnya semakin sedikit setelah ditarik dan diperintahkan menyerang dengan 200 tank ke Bapaume, memulai Pertempuran Albert, dengan perintah spesifik "Untuk menerobos front musuh, dengan tujuan menghancurkan front pertempuran musuh saat ini" (berseberangan dengan AD Keempat Britania di Amiens).[49] Para pemimpin Sekutu sekarang sadar bahwa melanjutkan serangan setelah perlawanan sengit memakan banyak korban, dan lebih baik membelokkan lini daripada meneruskannya. Mereka mulai melancarkan serangan dengan cara cepat untuk mendapatkan keuntungan dari pergerakan yang berhasil di garis depan, kemudian memecahnya ketika setiap serangan kehilangan impetus awalnya.[120]
Front Angkatan Darat Ketiga Britania sepanjang 15-mile (24 km) di sebelah utara Albert berhasil membuat kemajuan setelah buntu selama satu hari melawan garis perlawanan utama yang merupakan batas penarikan pasukan musuh.[121] Angkatan Darat Keempat Britania pimpinan Rawlinson berhasil menekan garis kirinya sampai wilayah antara Albert dan Somme, meluruskan garis antara posisi Angkatan Darat Ketiga dan front Amiens, yang berakhir dengan penaklukan kembali Albert pada saat yang sama.[120] Tanggal 26 Agustus, Angkatan Darat Pertama Britania di sebelah kiri Angkatan Darat Ketiga terlibat dalam pertempuran, sehingga memperpanjang front ke utara melewati Arras. Korps Kanada, sudah kembali di garis depan Angkatan Darat Pertama, bergerak dari Arras ke timur 5 mile (8 km) melewati wilayah Arras-Cambrai yang dipertahankan habis-habisan sebelum mencapai pertahanan terluar Garis Hindenburg, dan berhasil menerobosnya pada tanggal 28 dan 29 Agustus. Bapaume jatuh tanggal 29 Agustus ke tangan Divisi Selandia Baru Angkatan Darat Ketiga, dan Australia, masih memimpin pergerakan AD Keempat, kembali mampu menekan musuh di Amiens untuk menduduki Peronne dan Mont Saint-Quentin tanggal 31 Agustus. Jauh ke selatan, AD Pertama dan Ketiga Perancis bergerak lambat, sementara AD Kesepuluh, yang sekarang sudah melintasi Ailette dan berada di timur Chemin des Dames, mendekati posisi Alberich di Garis Hindenburg.[122] Sepanjang minggu terakhir Agustus, tekanan di front sepanjang 70-mile (113 km) melawan musuh sangat berat dan tidak berhenti-henti. Dari kesaksian Jerman, "Setiap hari dihabiskan dalam pertempuran berdarah melawan musuh yang selalu menyerbu, dan malam dihabiskan tanpa tidur dalam pergerakan mundur ke garis baru."[120] Bahkan di sebelah utara di Flandria, AD Kedua dan Kelima Britania selama Agustus dan September mampu membuat kemajuan, menawan tentara musuh dan posisi yang sebelumnya mengalahkan mereka.[122]
Tanggal 2 September, Korps Kanada menerobos garis Hindenburg, dengan membuka celah di Posisi Wotan, sehingga memungkinkan Angkatan Darat Ketiga maju dan memberi dampak di seluruh Front Barat. Pada hari yang sama, Oberste Heeresleitung (OHL) tidak punya pilihan lain kecuali mengeluarkan perintah kepada enam pasukan angkatan darat untuk mundur ke Garis Hindenburg di selatan, di belakang Canal du Nord di front AD Pertama Kanada dan kembali ke garis di sebelah timur Lys di utara. Perintah ini tanpa perlawanan berhasil mengembalikan medan perang yang direbut pada April sebelumnya.[123] Menurut Ludendorff, "Kami harus mengakui perlunya tindakan ...menarik seluruh front dari Scarpe ke Vesle."[124]
Dalam nyaris empat minggu pertempuran yang dimulai tanggal 8 Agustus, lebih dari 100.000 personil Jerman ditawan, 75.000 oleh BEF dan sisanya oleh Perancis. Sebagaimana "Hari Kelam Angkatan Darat Jerman", Komando Tinggi Jerman menyadari mereka kalah perang dan melakukan upaya mencapai akhir yang memuaskan. Sehari setelah eprtempuran tersebut, Ludendorff memberitahu Kolonel Mertz, "Kita tidak lagi mampu memenangkan perang, tetapi kita juga tidak boleh kalah." Pada tanggal 11 Agustus, ia mengajukan pengunduran dirinya ke Kaiser dan ditolak dengan balasan, "Saya pikir kita harus mencapai keseimbangan. Kita nyaris mencapai batas kekuatan perlawanan kita. Perang harus diakhiri." Tanggal 13 Agustus di Spa, Hindenburg, Ludendorff, Kanselir, dan Menteri Luar Negeri Hintz setuju bahwa perang tidak dapat diakhiri secara militer, dan pada keesokan harinya Dewan Kekaisaran Jerman memutuskan bahwa kemenangan di medan perang sudah tidak memungkinkan lagi. Austria dan Hongaria memperingatkan bahwa mereka hanya bisa melanjutkan perang sampai Desember, dan Ludendorff menyarankan negosiasi damai secepatnya dan Kaiser menanggapinya dengan memerintahkan Hintz meminta mediasi Ratu Belanda. Pangeran Rupprecht memperingatkan Pangeran Max dari Baden: "Situasi militer kita cepat sekali memburuk sampai-sampai saya tidak lagi yakin kita bisa bertahan selama musim dingin; bisa saja sebuah bencana datang lebih cepat." Pada tanggal 10 September, Hindenburg menyarankan perdamaian kepada Kaisar Charles dari Austria dan Jerman meminta mediasi dari Belanda. Tanggal 14 September, Austria mengirimkan catatan kepada semua pihak terlibat dan pihak netral yang menyarankan pertemuan diskusi damai di daerah netral dan keesokan harinya Jerman membuat tawaran damai dengan Belgia. Kedua tawaran damai ditolak dan pada tanggal 24 September OHL memberitahu para pemimpin negara di Berlin bahwa pembicaraan gencatan senjata sudah tidak terelakkan lagi.[122]
Pada bulan September, Jerman terus melancarkan serangan pertahanan belakang dan berbagai serangan balasan di daerah-daerah yang hilang, tetapi hanya sedikit yang berhasil, namun sementara saja. Kota, desa, perbukitan, dan parit yang diperebutkan di Garis Hindenburg terus jatuh ke tangan Sekutu, dengan BEF sendiri menawan 30.441 tentara pada minggu terakhir September. Pergerakan kecil ke timur kelak menyusul kemenangan Angkatan Darat Ketiga di Ivincourt tanggal 12 September, Angkatan Darat Keempat di Epheny tanggal 18 September, dan pencaplokan Essigny-le-Grand oleh Perancis keesokan harinya. Pada tanggal 24 September, serangan akhir oleh Britania dan Perancis di front sepanjang 4-mile (6.4 km) terjadi 2 mile (3.2 km) dari St. Quentin.[122] Dengan pos luas dan garis pertahanan awal Posisi Siegfried dan Alberich berhasil dimusnahkan, Jerman saat ini sepenuhnya bertahan di Garis Hindenburg. Dengan posisi Wotan di garis itu telah diterobos dan posisi Siegfried terancam dibelokkan dari utara, sudah saatnya Sekutu menyerbu sisa bentangan garis tersebut.
Serangan di Garis Hindenburg dimulai tanggal 26 September dan melibatkan tentara A.S. Tentara Amerika yang masih baru mengalami masalah dengan suplai untuk pasukan besar di daerah yang tidak bersahabat.[125] Minggu selanjutnya, pasukan gabungan Perancis dan Amerika merangsek ke Champagne pada Pertempuran Blanc Mont Ridge, mengusir Jerman dari posisi komandonya, dan maju mendekati perbatasan Belgia.[126] Kota Belgia terakhir yang dibebaskan sebelum gencatan senjata adalah Ghent, yang dipertahankan Jerman sebagai patokan tempur sampai Sekutu melibatkan artileri.[127][128] Pasukan Jerman harus memperpendek frontnya dan memakai perbatasan Belanda sebagai patokan serangan pertahanan belakang.
Saat Bulgaria menandatangani gencatan senjata terpisah tanggal 29 September, Sekutu berhasil menguasai Serbia dan Yunani. Ludendorff, setelah mengalami tekanan berbulan-bulan, menderita depresi. Sudah jelas bahwa Jerman tidak mampu lagi membuat pertahanan yang berhasil.[129][130]
Sementara itu, berita tentang kekalahan militer Jerman yang sudah dekat menyebar ke seluruh angkatan bersenjata Jerman. Ancaman desersi semakin besar. Laksamana Reinhard Scheer dan Ludendorff memutuskan melancarkan usaha terakhir untuk mengembalikan "kebanggaan" Angkatan Laut Jerman. Tahu bahwa pemerintahan Pangeran Maximilian dari Baden akan memveto tindakan apapun, Ludendorff memutuskan untuk tidak memberitahunya. Sayangnya, berita tentang serangan lanjutan diketahui para marinir di Kiel. Banyak yang menolak menjadi bagian dari serangan laut yang dirasa bersifat bunuh diri dan mereka memberontak dan ditahan. Ludendorff disalahkan dan Kaiser memecatnya pada tanggal 26 Oktober. Keruntuhan Balkan berarti Jerman akan kehilangan suplai minyak dan makanan utamanya. Cadangannya sudah habis, bahkan saat tentara A.S. terus tiba dengan jumlah 10.000 orang per hari.[131]
Menderita lebih dari 6 juta korban, Jerman mencari perdamaian. Pangeran Maximilian dari Baden memimpin pemerintahan baru sebagai Kanselir Jerman untuk bernegosiasi dengan Sekutu. Negosiasi telegraf dengan Presiden Wilson segera dimulai dengan harapan ia akan memberi permintaan yang lebih baik daripada Britania dan Perancis. Harapan tersebut sia-sia karena Wilson malah meminta Kaiser mengundurkan diri. Tidak ada perlawanan ketika Philipp Scheidemann dari Partai Demokrat Sosial menyatakan Jerman sebagai negara republik pada tanggal 9 November. Kekaisaran Jerman tidak berdiri lagi dan Jerman baru telah didirikan dengan nama Republik Weimar.[132]
Gencatan senjata dan penyerahan diri[sunting | sunting sumber]
Keruntuhan Blok Sentral terjadi cepat. Bulgaria merupakan negara pertama yang menandatangani gencatan senjata pada tanggal 29 September 1918 di Saloniki.[134] Tanggal 30 Oktober, Kesultanan Utsmaniyah menyerah di Moudros (Gencatan Senjata Mudros).[134]
Tanggal 24 Oktober, Italia memulai pergerakan yang berhasil menguasai kembali teritori yang hilang setelah Pertempuran Caporetto. peristiwa ini memuncak pada Pertempuran Vittorio Veneto, yang menandai akhir dari Angkatan Darat Austria-Hongaria sebagai sebuah pasukan perang yang efektif. Serangan ini juga mendorong disintegrasi Kekaisaran Austria-Hongaria. Selama minggu terakhir Oktober, deklarasi kemerdekaan dibuat di Budapest, Praha, dan Zagreb. Tanggal 29 Oktober, otoritas kekaisaran meminta gencatan senjata dengan Italia. Tetapi Italia terus bergerak maju, mencapai Trento, Udine, dan Trieste.. Tanggal 3 November, Austria-Hongaria mengirimkan bendera putih untuk meminta gencatan senjata. Persyaratan yang disampaikan melalui telegraf oleh pemimpin Sekutu di Paris dikirim ke komandan Austria dan diterima. Gencatan senjata dengan Austria ditandatangani di Villa Giusti, dekat Padua, tanggal 3 November. Austria dan Hongaria menandatangani gencatan senjata terpisah setelah penggulingan Monarki Habsburg.
Setelah pecahnya Revolusi Jerman 1918–1919, sebuah republik diproklamasikan tanggal 9 November. Kaiser mengungsi ke Belanda.
Tanggal 11 November pukul 05:00, gencatan senjata dengan Jerman ditandatangani di sebuah gerbong kereta di Compiègne. Pukul 11:00 tanggal 11 November 1918 — "jam sebelas hari sebelas bulan sebelas" — gencatan senjata diberlakukan. Selama enam jam antara penandatanganan gencatan senjata tersebut dan penerapannya, pasukan yang saling berperang di Front Barat mulai menarik diri dari posisi mereka, tetapi terus bertempur di sejumlah wilayah front karena para komandan ingin mencaplok wilayah sebelum perang berakhir. Prajurit Kanada George Lawrence Price ditembak seorang penembak jitu Jerman pada pukul 10:57 dan tewas pukul 10:58.[135] Prajurit Amerika Serikat Henry Gunther gugur 60 detik sebelum gencatan senjata diterapkan saat sedang berlari menyerbu tentara Jerman yang terkejut dan tahu bahwa gencatan senjata sudah dekat.[136] Prajurit Britania terakhir yang gugur adalah George Edwin Ellison. Korban terakhir dalam perang ini adalah seorang Jerman, Letnan Thomas, yang setelah pukul 11:00 sedang berjalan menyusuri garis depan untuk memberitahu tentara Amerika Serikat yang belum diberitahu tentang gencatan senjata bahwa mereka akan mengosongkan bangunan di belakang mereka.[137] Pendudukan Rhineland terjadi setelah gencatan senjata. Pasukan pendudukan terdiri dari pasukan Amerika Serikat, Belgia, Britania, dan Perancis.
Superioritas Sekutu dan legenda pengkhianatan, November 1918[sunting | sunting sumber]
Pada bulan November 1918, Sekutu memiliki suplai prajurit dan material yang cukup untuk menyerbu Jerman. Namun pada saat gencatan senjata, tidak ada pasukan Sekutu yang melintasi perbatasan Jerman; Front Barat masih 900 mi (1,400 km) jauhnya dari Berlin; dan pasukan Kaiser telah mundur dari medan perang secara baik-baik. Faktor-faktor tersebut memungkinkan Hindenburg dan pemimpin Jerman senior lainnya menyebar berita bahwa pasukan mereka belum benar-benar dikalahkan. Ini berujung pada legenda pengkhianatan,[138][139] yang menyebut kekalahan Jerman bukan karena ketidakmampuannya melanjutkan peperangan (meski hampir satu juta tentara menderita wabah flu 1918 dan tidak bisa berperang), tetapi kegagalan publik merespon "panggilan patriotik"-nya dan dugaan sabotase perang internasional, terutama oleh kaum Yahudi, Sosialis, dan Bolshevik.
Perjanjian Versailles, Juni 1919[sunting | sunting sumber]
Keadaan perang formal antara kedua pihak terus berlanjut selama tujuh bulan selanjutnya sampai penandatanganan Perjanjian Versailles dengan Jerman pada tanggal 28 Juni 1919. Akan tetapi, publik Amerika Serikat menolak ratifikasi perjanjian tersebut, terutama karena Liga Bangsa-Bangsalah perjanjian tersebut dibuat; A.S. tidak mengakhiri secara resmi keikutsertaannya dalam perang sampai Resolusi Knox-Porter ditandatangani tahun 1921. Setelah Perjanjian Versailles, perjanjian dengan Austria, Hongaria, Bulgaria, dan Kesultanan Utsmaniyah ditandatangani. Namun, negosiasi perjanjian terakhir dengan Kesultanan Utsmaniyah diikuti oleh perselisihan (Perang Kemerdekaan Turki), dan perjanjian damai terakhir antara Blok Sekutu dan negara yang segera menjadi Republik Turki baru ditandatangani pada tanggal 24 Juli 1923 di Lausanne.
Sejumlah tugu peringatan perang menyebut akhir perang adalah ketika Perjanjian Versailles ditandatangani tahun 1919, yaitu ketika banyak tentara yang berdinas di luar negeri akhirnya pulang ke negara masing-masing; sebaliknya, banyak peringatan berakhirnya perang terpusat pada gencatan senjata tanggal 11 November 1918. Secara hukum, perjanjian damai formal belum selesai sampai ditandatanganinya perjanjian terakhir, yaitu Perjanjian Lausanne. Sesuai ketentuannya, pasukan Sekutu keluar dari Konstantinopeltanggal 23 Agustus 1923.
sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Dunia_I#Teater_konflik







0 komentar:
Posting Komentar